Hai
orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu
menegakkan (kebenaran) Karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan
janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu
untuk berlaku tidak adil. berlaku adillah, Karena adil itu lebih dekat
kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha
mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(Q.S. Al Maa’idah [5]
Hakekat seorang pemimpin adalah “khilafatunnubuwah” atau menggantikan posisi kenabian dalam menata dan mengatur urusan negara dan keduniaan (tadbiiru al-dunya) beserta urusan agama (khirasatu al-dien)
tentunya. Hal tersebut seperti didirikannya kekhalifahan “khulafaur
rasyidin” setelah Rasulullah SAW. Pada dasarnya menjadi seorang
pemimpin adalah suatu yang sangat berat tangung jawabnya. Artinya
sesorang yang mencalonkan dirinya menjadi seorang pemimpi berarti telah
harus siap memikul beban berat tersebut. Beban tersebut adalah tanggung
jawab nya di sisi Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: ”Setiap pemimpin harus mempertanggung jawabkan (permasalahan) rakyatnya (di sisi Allah).”
Seorang
pemimpin tidak hanya mempertanggungjawabkan kebijakannya di hadapan
masyarakat yang dipimpinnya saja, akan tetapi juga
mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah SWT. Kebijakan-kebijakann
yang pernah diambil harus dipertanggungjawabkan, terutama yang
berkaitan dengan kemaslahatan umat. Sungguh besar dan berat untuk
menjadi seorang pemimpin. Namun kita lihat sekarang di realita
kehidupan. Orang-orang berbondong-bondong mencalonkan diri mereka untuk
menjadi pemimpin. Dari tingkat kepala desa sampai presiden.
Mekanismenya pun sangat unik, siapa yang berduit maka lebih berpotensi
untuk terealisasi menjadi pemimpin. Obral duit atau serangan fajar,
istilah sekarang telah menjadi rahasia umum. Semua telah mengetahui
perihal seperti ini di belahan daerah manapun di Indonesia. Praktek
seperti ini umum terjadi dari tingkat pusat sampai RT. Sedikit sekali
pemimpin tanpa modal harta, dengan modal kepercayaannya menjadi seorang
pemimpin. Mereka seolah-olah tidak mengetahui bahwa dibalik semuanya
ada tanggung jawab kelak di sisi Allah.
Padahal
seharusnya seorang pemimpin mempunyai kewajiban-kewajiban yang harus
dipenuhi. Di antara kewajiban-kewajiban tersebut adalah:
- Berbuat adil kepada seluruh elemen masyarakat, adil dalam aspek sosial, hukum dan adil dalam pemerataan kesejahteraan ekonomi, tidak membedakan kerabat dekat dengan orang biasa, dan dapat dipercaya (amanah). Allah SWT berfirman:
Hai
orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu
menegakkan (kebenaran) Karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan
janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu
untuk berlaku tidak adil. berlaku adillah, Karena adil itu lebih dekat
kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha
mengetahui apa yang kamu kerjakan (Q.S. Al Maa’idah [5]
- Menata dan mengarahkan umatnya untuk selalu menjaga persatuan dan kesatuan sehingga menjadi bangsa yang kuat, dan tidak mudah dimasuki dan diacak-acak Negara lain
ita
mempunyai peran signifikan dalam menentukan siapa dan bagaimana sosok
yang akan memimpin kita. Baik buruknya pemimpin yang akan memimpin
kita, sangat dipengaruhi oleh bagaimana kita menggunakan mata hati kita
untuk melihat secara jernih dan berpandangan ke masa depan. Rasulullah
SAW pernah mengingatkan bahwa ada dua macam pemimpin di dunia ini,
yaitu pemimpin yang baik dan pemimpin yang jahat. Diriwiyatkan dari
Hisyam bin Urwah dari Abi Shalih dari Abu Hurairah bahwasanya
Rasulullah SAW bersabda: “Akan memerintah setelahku sebuah
pemerintahan. Pemimpin yang baik akan memerintah dengan baik dan
pemimpin yang jahat akan memerintah dengan kejahatannya. Maka
dengarkanlah dan patuhilah yang benar.’
Semoga
Allah memberikan kepada kita pemimpin yang benar-benar amanah dan dalam
mengambil kebijakan selalu mendahulukan kemaslahatan umat atau
masyarakat yang dipimpinnya. Karena pada dasarnya kewajiban pemimpin
kepada rakyatnya harus berdasarkan kemaslahatan umat sebagaimana kaidah
fiqhiyyah “tasharruful imaami ‘ala ra’iyyatihi manuutun bil maslahah,” artinya pada dasarnya tasharruf
atau kebijakan seorang pemimpin harus memperhatikan bagaimana
kemaslahatannya bagi umat. Semoga Allah membuka mata hati kita untuk
dapat melihat seobyektif mungkin dan memberi petunjuk siapa calon
pemimpin yang layak dan ideal untuk memimpin kita. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berikan komentar anda untuk membangun blog ini agar menjadi lebih baik. terima kasih